Kurikulum Merdeka Mengakhiri Miskonsepsi dan Stereotipe Jurusan IPA dan IPS ?


Waktu pendaftaran SMA dulu aku kira bisa nentuin mau masuk IPA atau IPS, tapi ternyata tidak. Semua di tentuin oleh "sistem" yang aku nggak tau cara kerja spesifik nya seperti apa. Dan di saat yang sama pula, mulai terdengar tentang konsepsi bahwa anak IPA lebih pintar dari anak IPS. Ah aku ingin sekali tidak setuju dengan konsep itu. Bukankah IPA dan IPS adalah dua rumpun yang memiliki ranah berbeda? Tapi gimana aku mau membantah? kan dari pemilihan jurusan aja jelas udah ganjil dengan ditentukan oleh sistem. Terus dikalangan siswa kadang timbul miskonsepsi "anak IPS buangan anak IPA". Dan berbagai stereotipe yang ramai di sosial media yang tidak ada habisnya dari dua jurusan juga terus membumbui miskonsepsi ini.

Tapi setelah angkatanku, di pendaftaran angkatan berikutnya, siswa sudah bebas menentukan mau masuk jurusan apa. Bagus, aku lebih suka yang ini. Lebih adil.

Di sosial media kalau bahas stereotipe antara anak IPA dan IPS itu selalu ada aja, kalau perang stereotipe pun juga nggak akan pernah ada habisnya.

Aku sebagai anak IPA yang di peminatan ada mapel ekonomi justru kayak mikir gini "konsepsi bahwa anak IPA lebih pintar dari anak IPS itu bener-bener salah banget, ini pelajaran ekonomi nya aja butuh analisis tinggi juga loh ya." Dan di akhir kelas 12 ini, menurut data yang aku gali untuk masuk perguruan tinggi justru banyak anak IPA yang akhirnya lintas jurusan ke rumpunnya anak IPS. Wake up... Ayolah berhenti membuat miskonsepsi dan stereotipe aneh-aneh tentang dua jurusan ini.

Sebagai anak IPA aku juga ingin membantah stereotipe tentang anak IPA yang terkenal "egois". Sebenarnya bukan egois, tapi mungkin anak-anak nya terlihat "sangat serius" sehingga terlihat egois. Egois itu menurutku tergantung pribadi masing-masing. Di IPA ada orang egois, di IPS pun pasti ada. Jadi nggak bisa deh di buat stereotipe seperti itu.

Dan ya kabarnya 2022 ini ada kurikulum baru, kurikulum merdeka. Sayangnya sebentar lagi aku juga udah lulus SMA jadi tidak akan mencicipi kurikulum yang menarik ini. Dari berbagai informasi, sepertinya konsep kurikulum ini bisa mengakhiri miskonsepsi dan stereotipe jurusan IPA dan IPS. Let see...

Kalau ditanya bangga nggak sih dijurusan IPA? Antara bangga dan biasa aja. Toh apa yang mesti di banggain di IPA juga jadi murid biasa aja. Kalau ditanya lagi, Nyesel nggak sih masuk IPA? Nggak, apa yang perlu di sesalin, semua berjalan lancar. Terus pertanyaan terakhir yang akan memancing berbagai asumsi "pengen masuk IPS nggak sih?" Aku respect banget sama jurusan IPS, tapi ya kembali ke jawaban kedua tadi aku nggak nyesel kok ada di jurusan IPA, ya biar sesuai alurnya aja seperti ini tanpa merubah arah takdir yang sedang aku jalani.

So simple, inti dari semua permasalahan tentang dua atau lebih hal yang berbeda itu terletak pada "seberapa respect" dari setiap individu nya, dah gitu aja... Selesaii...

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menutup Lembaran Indah Tahun 2021

Banyak Jalan Menuju Roma

My Lovely, Sabila