Banyak Jalan Menuju Roma
7 tahun lalu, aku memikirkan hari ini—bahwa menjadi anak yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas terkhusus kelas 12 akan sangat menyenangkan. Banyak FTV, Sinetron, ataupun Series yang aku tonton tentang anak SMA bukanlah seperti kenyataan yang sedang aku arungi ini. Kecuali, dalam drakor "Sky Castle" yang pernah aku tonton, yang didalamnya terdapat para orang tua dari golongan elit yang rela menyewa tutor terbaik demi bersaing agar anak mereka masuk universitas terbaik. Sedikit scane yang aku ingat, di drakor tersebut bahkan sampai ada insiden bunuh diri. Dulu, sepanjang aku menghabiskan episode drakor tersebut yang ada di pikiranku cuma ada kata "menyeramkan". Walaupun mungkin kisahku tidak semenyeramkan itu, tapi ini sungguh menjadi salah satu masa-masa menyeramkan.
"Mau lanjut kemana?" Adalah pertanyaan yang paling aku takuti. Menimbang beberapa faktor, sebenarnya kemungkinan buat aku kuliah tahun ini sangat kecil. Masalah persiapan utbk, atupun finansial. Disaat temen-temen ku mendapatkan tempat les terbaik. Aku lebih memilih diam dirumah, belajar dengan buku seadanya, tidak konsisten. Di dalam kesendirian, aku sering menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan kasar, berharap semua beban ikut terangkat. Tapi kehidupan ini memang harus di jalani. Aku akan terus berjalan melakukan yang terbaik yang aku bisa.
Kebanyakan teman-teman mungkin melihat ku sebagai sosok yang selalu ceria, selalu tersenyum, tertawa di berbagai kondisi. Tapi di sela-sela itu sepersekian detik tanpa mereka sadari sebenarnya ada sisi diriku yang lain, penuh kesedihan. Dan sepersekian detik pula aku akan menutupinya dengan rapi. Aku sadar, aku terlalu overthinking.
Sebenarnya ini sangat simpel, jikapun tahun ini tidak menemukan jalan. Bisa coba lagi ditahun depan ataupun tahun depannya lagi. Jikapun tahun ini gagal, dunia pun tidak akan berhenti. Lalu kenapa harus se-overthinking ini, susah makan, susah tidur, sering sakit. Apa sebenarnya yang aku kejar?. Gengsi? Ya mungkin memang benar aku hanya mengejar gengsi. Jika niat ku tidak segera aku ubah maka aku akan benar-benar mendapatkan kegagalanku.
Aku menulis blog ini untuk bahan evaluasi diri. Dimalam yang tenang, akan kubaca ulang berkali-kali, menemukan masalahnya, dan akan segera aku evaluasi lagi. Kali ini mungkin harus meluruskan niat sebenarnya niat apa yang mendasari untuk kuliah.
Menjadi seorang perempuan, kadang masih mendengar kalimat-kalimat seperti misal target usia menikah, usia 22 harus nikahlah, usia segini harus inilah. Siapa sih yang awalnya buat standar itu?. Apa dengan menikah muda dapat jaminan bahagia? Kadang kalo mengkalkulasi usia 22 harus menikah itu Brrti jarak lulus SMA (18 thn ke umur 22 thn itu cuma 4 tahun) 4 tahun itu hanya cukup lulus S1 (jika kuliah tepat waktu–tidak gap year ataupun menambah semester). Terus lulus S1 menikah, gimana cara menikmati menghabiskan uang hasil jerih payah sendiri. gimana cara sepenuhnya ngasih uang hasil jerih payah ke orang tua. Sungguh sangat tidak etis usia-usia standar yang ditetapkan.
Tapi dalam jangka waktu sampe akhir tahun ini pasti pertanyaan yang akan sering ditanyakan "lanjut kemana?" Dengan ngasal aku selalu menjawab universitas yg berada antara top 1-5 Indonesia, dengan prodi dengan keketatan tinggi. Iya memang aku butuh 'keraguan' dari orang-orang. Walaupun itu jawaban ngasal, tapi dampak yg aku dapatkan adalah sebuah 'keraguan-keraguan' dan itu yang aku butuhkan sebagai pematik semangat untuk menjalani hari yg semakin keras. Tentu aku juga tau diri, mana mungkin serius dengan jawaban itu.
Dulu ada temenku yang bilang bahwa prinsip hidup dia kurang lebih seperti ini "pikirkanlah hal terburuk yg akan terjadi, untuk menyiapkan solusinya". Jika diaplikasikan dalam kondisi sekarang, tentu kemungkinan terburuk tahun ini adalah gap year. Tapi solusinya, dalam gap year tersebut harus apa? Belajar untuk menyiapkan tahun depan, bekerja dulu, atau hanya menangis meratapi nasib?. Tentu hal terburuk harus dipikirkan dan dicari solusinya. Terimakasih temanku, dua tahun menjadi teman dekatmu aku merasa perlu belajar banyak hal darimu. Mungkin kamu tidak akan pernah membaca blog ini. Mungkin kita sudah lost kontak. Tapi semua hal-hal baik darimu akan selalu aku jadikan cermin dalam hidupku.
"Banyak Jalan Menuju Roma" pepatah yang sangat manis. Yakinlah bahwa banyak jalan atau cara dalam menggapai sesuatu. Kita hanya perlu mencoba jalan lain jika jalan sebelumnya buntu. Jika di percobaan ke 1001 jalan masih buntu. Tolong jangan menyerah. Tolong jangan berhenti. Siapa yang tau kalau di percobaan ke 1002 itu adalah jalan milik kita.
Sekali lagi, jika pun gagal snmptn, masih ada sbmptn, jika gagal sbmptn, masih ada jalur mandiri, jika gagal PTN masih ada PTS, jika gagal tahun ini masih ada tahun depan, jika tidak ada biaya kuliah, cari beasiswa, jika gagal beasiswa, bekerjalah dulu baru kuliah. Habiskan jatah gagalmu, jangan berhenti sampai menemukan jalan tol yang mulus itu. Jika kamu gagal, dunia tidak akan berhenti, jangan hentikan duniamu, teruslah mencoba.
Jikapun memang harus merintis usaha, atau apapun dan memutuskan untuk tidak kuliah pun tidak apa-apa. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Ingat, banyak jalan menuju Roma.
#SelamatMalamMingguPejuangMasaDepan
Komentar
Posting Komentar