Tentang Sampah (Masyarakat)
Akhirnya di bravo inilah tempat favorit kita—tepatnya di koridor depan toko buku Pustaka 2000. Yang di sebelah kanannya ada es krim favorit kita. Disuatu hari, aku pergi dengan salah satu sahabatku kesana. Setelah capek mengecek buku-buku terbaru di dalam toko buku tersebut, kita berdua duduk santai di koridor itu sambil menikmati es krim vanila chip dan bercerita kesana-kesini membahas kegiatan kita akhir-akhir ini.
Di sebelah kita ada ibu-ibu yang sedang asyik menikmati sempolan dan yang membuat kita nggak habis pikir adalah ibu itu dengan seenaknya membuang tusuk sempolan yang banyak dengan sembarangan padahal di samping ibu itu ada tempat sampah besar. Kita ingin sekali menegur, tapi daripada menimbulkan kerusuhan akhirnya kita menahan diri dan memilih nggak mau melihat kejadian itu. Setelah beberapa menit ibu itu pergi, ada seorang office boy yang datang membawa sapu dan serok sampah untuk membersihkan tempat ibu tadi. Hatiku kok rasanya sakit ya, ku tanyakan ke sahabatku tentang kejadian tadi, dia juga bilang "keterlaluan" dan "kasian OB nya" ya walaupun tugas OB seperti itu. Tapi ibu itu apa tidak bisakah berdiri 5 detik dan membuang sampahnya ke tempat sampah di sampingnya?
Setelah kejadian itu, yang membuat kita tidak nyaman akhirnya kita pergi dari sana. Daripada kita terus ikut kesal. Kita ke kedai untuk beli makanan. Dan hanya membeli, tidak untuk dimakan di sana. Kita makan di taman kota. Lagi dan lagi, di sepanjang taman kota ini pun juga sampah berserakan. Mulai bekas pop mie, botol air, atau kantong kresek.
***
Setelah pulang dari sana dan setelah mengantar sahabatku itu, saat menuju pulang ke rumah. Aku berpapasan dengan segerombolan pemuda yang sedang arak-arakan dan menggeber-geberkan motor mereka. Mereka memenuhi seluruh badan jalan. Sehingga yang seperti aku—dari arah berlawanan, harus menepi. Apa ini yang dinamakan "sampah masyarakat?" Aku sering mendengar sebutan itu, tapi kesulitan siapa yang sebenarnya pantas dilabeli dengan sebutan itu. Yang mengganggu dan merugikan orang lain kah? Tapi tunggu, aku mengenali salah satu dari mereka, dia temanku SMP. Ah aku ingat, gerombolan pemuda ini juga yang beberapa bulan lalu saat Ramadhan terlihat berbagi makanan untuk berbuka puasa di pertigaan sana.
***
Aku jadi sadar, di setiap sisi yang buruk pasti masih ada sisi yang baik. Merasa bahwa kita lebih baik dari pendosa pun juga tidak disukai Allah. Seperti Ibu-ibu yang aku temui, Kebersihan memang sebagian dari Iman, lalu merasa Iman kita lebih baik dari Ibu-ibu itu juga tidak boleh. Segerombolan pemuda itu memang membuat bising dan mengganggu orang lain, tapi lihatlah beberapa bulan lalu saat mereka berbagi makanan berbuka puasa yang bahkan mungkin saja kita belum sampai melakukan hal tersebut. Allah maha mengetahui segalanya. Dan kita harus tetap berprasangka yang baik-baik terhadap segala sesuatu.
Komentar
Posting Komentar